Kirim Pertanyaan

H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MARubrik Konsultasi ini diasuh oleh H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA (Ketua Umum Yayasan Muntada Ahlil Quran), bagi para pecinta Al-Quran dan pengunjung setia muntadaquran.net, silahkan kirim pertanyaan anda ke email : ibnu_hekh@yahoo.com atau muntada_quran@yahoo.co.id dengan kategori pertanyaan : Tahfizh Al-Quran atau Syariah,

Atau klik link ini

Yahoo Messenger Status


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/duniawb/public_html/muntadaquran.net/v2/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99
Sinergi tadabbur ayat-ayat Qowliyyah dan ayat-ayat Kauniyyah
Written by adminweb    Thursday, 21 January 2010 11:25    PDF Print E-mail
Indahnya apabila kita bisa melakukan tadabbur (penghayatan) mendalam terhadap ayat al-Qur'an yang kita baca. Karena memang semua ayat-ayat al-Qur'an Allah turunkan untuk dipahami dan dihayati oleh setiap muslim. Dalam mempelajari Islam ini tidak mungkin kita berlepas diri dari berinteraksi dengan al-Qur'an ini. Tidak ada kesempurnaan dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan melainkan dengan cara mensyukuri al-Qur'an ini setelah nikmat Islam. Allah berfirman:

"Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu, Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan Aku ridhoi Islam sebagai agamamu..."(QS al-Maidah: 3)

Untuk melengkapi nikmat petunjuk Islam ini Allah memerintahkan kita untuk mempelajari al-Qur'an beserta isinya. Dengan segala kedalaman dan keluasan isi kandungannya, tidak mungkin kita hanya membatasi diri mentadabburinya lewat ayat-ayat tekstual saja. Tapi juga harus melibatkan alam semesta. Karena alam semesta tanda dan bukti kebesaran Allah yang tertuang dalam bentuk fisik.

Tentang hal ini Allah berfirman dalam ayat lain:

"Dan milik Allah sajalah kerajaan langit dan bumi. Dan Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pengiliran malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya mengatakan: "Wahai Rabb kami tidaklah Engkau ciptakan semua ini secara batil (sia-sia). Maha suci Engkau, maka peliharalah diri Kami dari (siksa api) neraka."(Qs Ali Imron: 189-191)

Dalam melakukan proses tadabbur setidaknya ada dua hal yang kita libatkan. Yaitu tadabbur ayat-ayat Qowliyyah (ayat-ayat al-Qur'an) yang termaktub secara tekstual dan tadabbur ayat-ayat Kauniyyah (alam semesta). Pelibatan kedua hal ini harus dilakukan mengingat alam semesta berfungsi sebagai penterjemah apa yang tertuang dalam al-Qur'an sebagai ayat-ayat Qouliyyah. Dan ayat-ayat Qouliyyah berfungsi sebagai ilustrasi tekstual apa yang termaktub secara fisik di alam raya ini.

Bagi seorang muslim yang memahami Islam secara kaffah, tentu saja tehnik tadabbur ini tidak diragukan lagi. Sebab keimanan kita kepada Allah tidak akan sampai kepada kesempurnaan melainkan apabila disinergikan antara proses tadabbur ayat-ayat qouliyyah dengan ayat-ayat kauniyyah.

Namun sayangnya tehnis tadabbur ini tidak banyak muslimin yang menyadarinya. Bisa jadi celah kekurangan ini menjadi faktor penyebab dangkalnya pemahaman mereka kepada Islam dan tipisnya keimanan mereka kepada Allah swt. Sehingga akibatnya membuat mereka semakin jauh dari Allah dan ajaran-Nya. Padahal cara inilah yang pernah dilakukan oleh generasi awal Islam terdahulu yang penuh dengan keimanan ini. Yaitu menggunakan manhaj tadabbur terhadap al-Qur'an.

Dalam bukunya yang berjudul Manhaj Tarbiyyah fil Qur'an (Konsep tarbiyyah dalam al-Qur'an), Muhammad Syadid menyebutkan bahwa manhaj tadabbur seperti inilah yang menjadikan generasi awal mencapai kegemilangan hidup dan perjuangan mereka mengibarkan panji Islam. Dalam buku ini beliau menyinggung bahwa settingan berpikir seorang muslim harus terancang dari manhaj tadabbur ini. Seperti bagaimana seharusnya pemikiran kita terbentuk dari hasil perenungan yang benar terhadap ayat-ayat al-Qur'an, khususnya yang bersentuhan langsung dengan masalah keimanan, mengasah kepekaaan sosial melalui penghayatan panjang bersama historis sejarah manusia sepanjang masa, pengenalan yang intensif dan selalu terasah dengan persoalan alam akhirat, dan lain sebagainya.

Manhaj ini tentu harus berawal dari pemahaman yang benar tentang tujuan diturunkannya al-Qur'an, yakni menjadi rahmatan lil alamin sehingga minset berpikir setiap muslim menjadi benar, terarah dan memberikan kesejukan.

Tanpa konsep ini maka pengakuan keimanan dan pemikiran yang berorientasi kepada Allah swt hanya omong kosong belaka!

Sebuah ungkapan mengatakan:

"Orang yang kehilangan sesuatu tidak akan bisa memberikan apa-apa."

Wallahu a'lam bish-showab

(Hidayatullah)
 
NB: Artikel ini juga bisa dibaca di SINI
 
Last Updated ( Thursday, 21 January 2010 11:41 )