Jadulisasi keimanan
Monday, 15 February 2010 09:25    | Written by adminweb    PDF Print E-mail

 

Percaya atau tidak percaya, tehnologi telah membuat zaman berubah. Begitulah pula anak zamannya seperti kita-kita yang hidup sekarang. Sebagian besar kita hampir dipastikan tidak ada yang gaptek. Terutama tentang persoalan internet atau barang-barang canggih imporan barat lainnya.

Sedih rasanya menyaksikan berbagai fenomena yang mengiris-iris hati ini. Atau bisa jadi diri kita sendiri yang juga ikut terseret terbawa arus jadulisasi keimanan itu. Nauzubillah min Zallik!

Kalau anda tanyakan kepada orang muslim sekarang: "eh ente beriman gak sih, kok kelihatan tidak shalat dan baca al-Qur'an?" Pasti jawabannya: "hmm..malu deh ditanya begitu." "Iman saya masih rendah kok." "Wah saya tidak ada waktu buat mikirin yang berbau keakheratan begituan." "Setiap orang khan beramal sesuai pemahamannya. Ya keimanan saya begini, kadang bagus kadang gak." "yang penting gue masih inget Tuhan laah, tuhan juga khan sayang sama kita!" "Ntar ah kalau sudah tua dan sakit-sakitan, gue pasti sadar, tobat dan insyaf  deh." dan jawaban-jawaban lainnya.

Mungkin itu jawaban mereka kalau kita tanyakan hal yang bersinggungan dengan masalah iman dan islam. Apatah lagi mereka hanya menganggap iman itu yaah asal kelihatan di masjid saja. Atau sekedar mengikuti yasinan atau taklim pekanan baik kaum remaja atau orang tua dan kaum ibu. Selebihnya ya bukan iman.! Iman bukan lagi sebagai sesuatu yang mahal dan berharga; yang terpatri  dalam hati, dilafazkan oleh lisan dan dibenarkan oleh amalan nyata. Sehingga akibatnya, hati mudah goyah ketika harus berhadapan dengan perubahan zaman.

Bagi kita yang melek akan perubahan zaman dan menjadi pendukung bagi kedewasaan keimanan kita tentu akan semakin bersyukur dengannya. Dan menjadikan kemajuan tehnologi itu sebagai sebuah nikmat yang justru akan mempermudah taqorrub kita kepada Allah dan memperkokoh keyakinan kita kepada Allah swt. Bukan malah melemahkan akidah kita. Bukan!! Kalau demikian yang terjadi, sungguh sangat disayangkan eksistensi kita dalam hidup ini.

kini, betapa banyak orang Islam yang mudah digoda syetan oleh tehnologi ini. Kesenangan dan kecanduan dengan barang canggih itu telah membuat hubungannya dengan Allah dan manusia menjadi renggang. Dan lama kelamaan akan hilang lenyap di telan tehnologi...eh, di telan masa!. Meminjam istilahnya ust. Yusuf Mansur "Orang Islam yang masuk neraka" karena semua dosa dilabrak habis-habisan. Mungkar sudah dianggap ma'ruf dan ma'ruf dianggap mungkar. Apalagi itu dilakukan oleh sebagian besar Muslim!! Bukankah ini ciri orang-orang munafik yang menakutkan itu?!

Allah berfirman:

"Orang-orang munafik, baik laki-laki ataupun perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi yang lain. Mereka menyuruh yang mungkar dan mencegah dari yang ma'ruf...."(Qs at-Taubah (9) : 67)

 Saya berpikir mungkin ini merupakan dampak sistemik perubahan zaman dan pergeseran nilai dan ideologi. Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa zaman sekarang adalah zaman konsumenrisme, materialisme dan hedonisme. Segalanya diukur sejauh mana diri kita tidak jadul, melek barang canggih dan kemewahan hidup. Seolah kalau kita tidak ikut-ikutan latah maka kita dicap sebagai orang jadul yang lebih patut terpental dari permukaan bumi. Padahal itu adalah salah satu bentuk pemikiran yang ingin mendangkalkan ideologi manusia kepada agama yang benar ini! Yahudi dan kaki tangannya adalah pihak yang harus diwaspadai, karena ia selalu bermain 'cantik' untuk menyesatkan manusia.

Jadi, berhati-hatilah terhadap kedok kecanggihan hidup yang berupaya untuk mengikis habis rasa keimanan kita yang sudah tertanam dalam hati ini.

Jangan sampai kita yang dahulu pernah merindukan surga yang kaya akan kecanggihan dan kenikmatan hidup abadi menjadi kendur dan melemah karenanya.

Solusinya adalah gunakan kemajuan tehnologi untuk mempercepat melajunya rasa keimanan kita kepada Allah dan menuai pahala yang tak terbatas di sisi-Nya!

Wallahu a'lam bish-showab.
 

(Hidayatullah)

 

Last Updated ( Monday, 15 February 2010 09:36 )
 
Al-Quran di antara dua zaman yang berbeda
Saturday, 06 February 2010 10:06    | Written by adminweb    PDF Print E-mail

 

Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa al-Quran Allah turunkan sebagai rahmat bagi semesta alam ini. Khususnya bagi orang-orang yang mengimaninya. Karenanya mengimaninya adalah bagian dari rukun iman yang enam selain mengimani Allah, rasul, malaikat, hari kiamat dan takdir baik atau buruk.

Orang yang beriman kepada Allah pasti juga beriman kepada kitab-kitab Allah yang lain. Untuk umat Islam sendiri sebagai umat terakhir yang diamanahkan al-Quran bersamanya wajib hukumnya mengimani dan meyakini eksistensi kitab suci al-Quran sebagai dusturul hayah (pedoman hidup). Di dalamnya Allah sudah merampungkan dan menyempurnakan semua ajaran para nabi dan rasul. Artinya dengan turunnya al-Quran dan tetap eksis sampai hari ini dan kelak hingga hari kiamat menandakan bahwa tidak ada tempat kembali bagi semua kebaikan manusia selain kembali kepada ajarannya.

Di antara kewajiban itu adalah menyadari akan tugas utama kita setelah berislam dan beriman, yakni menyimak dan mempelajari al-Quran secara intensif. Mengingat isi kandungan al-Quran tidak mungkin diselesaikan semuanya karena terterbatasan usia manusia yang singkat.

Oleh karena itu hidayah al-Quran untuk kehidupan kita sehari-hari harus terus menerus segar dalam denyut nadi kita. Semangat bersua, memahami dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata adalah wajib hukumnya. Sewajib kita memenuhi kebutuhan pangan dan sandang kita sehari-hari.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: "Manusia sangat membutuhkan ilmu sebagaimana mereka mencukupi kebutuhannya kepada makanan dan minuman." Apabila kebutuhan jasmani sangat diperlukan untuk memperkuat stamina fisik agar tetap prima, maka kebutuhan ilmu bagi manusia sebagai bentuk kebutuhan ruhiyyah (rohani). Bahkan kebutuhannya kepada ilmu lebih besar lagi. Dan tidak ada ilmu yang paling bermanfaat bagi manusia selain ilmu-ilmu yang terungkap dari al-Quran.

Peran al-Quran di zaman sahabat dan generasi salaf sholeh.

Kita tahu bahwa zaman para sahabat dan generasi kedua setelah mereka adalah zaman terbaik sepanjang sejarah. Dengan segala keunikan dan keistimewaannya seolah Allah ingin meninggalkan jejak kebaikan peradaban manusia itu melalui jejak langkah pewarisan sahabat dan generasi salaf sholeh. Khususnya dalam berinteraksi dengan nilai-nilai al-Quran sebagai dusturul hayah, para sahabat adalah orang yang paling besar perhatiannya terhadap isinya. Karena Rasulullah bersama mereka dan al-Quran turun di tengah-tengah mereka. Takdir Allah berlaku kepada mereka sebagai jilul farid (generasi unik) karena belajar dan mempelajari al-Quran sepanjang hayat. Kehadiran dan perjuangan mereka diakui kawan dan lawan.

Bagi kita yang hidup di zaman sekarang jangan sampai beralasan lalu bergumam: "Lah itu kan sahabat. Apalagi bersama mereka ada Rasulullah dan al-Quran sendiri turun di tengah-tengah mereka, wajar dong apabila mereka dapat dengan mudahnya meresapi al-Quran, memahaminya, termotivasi untuk selalu merealisasikan nilai-nilainya. Tapi jangan bandingkan lah dengan zaman kita sekarang."

Kalau diajak membandingkan, mungkin sebagian akan beralasan demikian sebagai alat untuk membela diri atas ketidakmampuannya berinteraksi dengan al-Quran di zaman yang penuh dengan godaan-godaan keduniaan dan pelemahan iman ini. Tapi pantaskah itu kita jadikan sebagai alasan untuk mendapatkan pemakluman dari Allah swt kelak?! Tentu tidak. Karena masing-masing generasi ada zaman dan masa yang Allah istimewakan bagi mereka. Semuanya Allah berikan kesempatan yang berbeda -baik generasi dahulu maupun modern saat ini- untuk dapat mengamalkan ajaran al-Quran dan al-Islam.

Secara logika mungkin bisa kita terima alasan di atas. Tapi secara fitrah dan ketentuan takdir, keduanya memiliki kelebihan dan keunikannya. Sebagai contoh misalnya keunikan generasi para sahabat dahulu Allah takdirnya mereka hidup untuk menjadi qudwah hasanah dalam hal tatbiqul Islam wal quran (mengamalkan Islam dan al-Quran) secara langsung dengan guru dan murobbi (pemimbing) mereka adalah Rasulullah saw. Bersama Rasulullah, Allah berkehendak menjadikan semua ajaran al-Quran membumi di tangan para sahabat sampai generasi tabi tabi'in sebagai tiga periode terbaik umat ini. Setelah itu seiring perubahan zaman, kadar pengamalan al-Quran dan sunnahpun semakin berkurang dan berkurang dari tubuh umat Islam. Dan lagi-lagi ini tidak bisa dilepaskan dari takdir Allah bagi umat manusia.

Nasib al-Quran di zaman modern dan kemajuan tehnologi:

Kalau di zaman para sahabat al-Quran mendapatkan perhatian yang amat besar, maka berbeda dengan perhatian umat Islam di zaman mdoern ini. Segalanya telah berubah 180 derajat. Sejarah terus bergulir mengiringi langkah hidup generasi manusia dan umat Islam. Meski demikian al-Quran tetap utuh seperti ketika dahulu di zaman para sahabat. Murni dan jauh dari segala perubahan dan penyimpangan.

Yang jadi masalah bukannya al-Quran. Karena al-Quran tetap Allah jaga sampai hari kiamat dengan segala keutuhan dan keasliannya, meski banyak tangan-tangan kotor yang ingin menodainya. Tapi manusia-manusianya lah yang tidak mengindahkannya. Akibatnya, al-Quran tak ubahnya bagaikan seonggok kitab klasik yang tidak lagi relevan dengan perubahan zaman. Seakan-akan isinya tidak lagi sanggup memberikan solusi bagi kehidupan manusia.! Inilah anggapan yang bodoh dan penuh kekeliruan. Padahal setiap zaman pasti ada generasi yang Allah pilih untuk meneruskan pemeliharaan al-Quran ini agar tetap mendapatkan perhatian manusia. Hal ini juga terkait dengan petunjuk Allah kepada manusia.

Kuncinya adalah kaum muslimin harus sadar dan mau kembali kepada jejak generasi terbaik dahulu dalam memahami dan mengamalkan al-Quran agar masa depan hidup mereka tidak suram dan bisa mengembalikan kejayaan Islam dan kaum muslimin dahulu.

Kita sendiri, harus mau dan maju. Bangkit bersama nilai-nilai al-Quran yang pernah diajarkan Rasulullah saw kepada kita. Apatah lagi, segala fasilitas dan media mempelajari al-Quran saat ini sudah semakin mudah dan tersedia. Betapa Allah sangat memanjakan umat Islam di zaman modern ini dengan kemudahan-kemudahan itu. Tinggal yang perlu dikoreksi adalah maukah umat Islam bangkit bersama al-Quran? Itu saja..

Sehingga tidak ada lagi alasan untuk menjadi seperti generasi sahabat dahulu sebagai umat terbaik sepanjang sejarah yang akan mengembalikan kejayaan Islam dengan al-Quran. Seperti kata sebuah ungkapan:

"Tidak ada izzah (kemuliaan) bagi kita kecuali dengan kembali kepada al-Quran."

Jadi, bagaimanakah porsi al-Quran pada diri kita?? Sudahkah kecintaan itu terealisir pada jiwa kita? Jika belum, ayo kembali kepada ajarannya, saat ini juga..!!

Wallahu a'lam bish-showab.

(by. Hidayatullah )

 

Last Updated ( Saturday, 06 February 2010 11:03 )
 
(Anggota TNI) Menghafal Al-Quran
Friday, 23 October 2009 06:22    | Written by Administrator    PDF Print E-mail
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh..

smoga ustadz dan kluarga slalu dalam lindungan dan rahmat Allah SWT..

Saya anggota TNI,umur 36 th,saya ingin sekali menjadi penghapal Al-quran,saat ini saya sdg bertugas di lebanon,alhamdulillah selama saya disini(nop 2008-skrg)saya baru bisa menghapal juz 30 itupun blm smpurna,pertanyaan:
 
Yakin bersama Kafilah Penghafal al-Qur'an Muntada
Wednesday, 25 May 2011 08:21    | Written by adminweb    PDF Print E-mail

Tidak sulit memupuk keyakinan kepada Allah agar terus bersemi dan menggerakkan kehidupan kita. Tapi, tidak bisa juga dikatakan bahwa meningkatkan keimanan kepada Allah itu sulit. Bagi orang-orang yang beriman tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada yang hal mustahil. Ya, karena mereka menumbuhkan keyakinan ini dari keyakinan mereka kepada Allah, Sang Pemberi Segalanya yang ada.

Last Updated ( Wednesday, 25 May 2011 21:54 )
 
Takut karena peringatan al-Qur'an
Thursday, 04 February 2010 09:47    | Written by adminweb    PDF Print E-mail

 

 Kata orang zaman sekarang ini zaman edan dan tidak menentu. Apapun bisa terjadi karena ulah manusia. Fitrah kebaikan dan keislaman yang Allah berikan seakan sudah tidak mampu lagi untuk menemukan cahanyanya. Di mana-mana tindak kriminal sudah demikian menjadi-jadi dan menerkam siapa saja. Tidak pandang buku. Tidak orang-orang lemah ataupun orang-orang kuat dan berada. Siapa yang tidak mengenal budaya korupsi, suap, pembunuhan dan pencemaran nama baik. Semuanya dilakukan atas nama nafsu buas manusia. Seolah sebersit rasa kasing sayang di dunia ini begitu amat mahal dijumpai.

Karena manusia adalah makhluk sempurna yang Allah ciptakan di muka bumi di antara sekian banyak makhluk-makhluk-Nya, maka kebiasaan buruk merusak dan membuat onar di dunia ini harus segera dilenyapkan dan diberantas sebersih mungkin. Ini mengingat manusia adalah khalifatullah fil ardh (wakil Allah di bumi) dalam menegakkan kebenaran. Yang namanya wakil dan representatif 'tangan' Allah, maka keberadaannya harus selalu berada di jalan-Nya. Istiqomah dalam hidayah-Nya dan selalu memakmurkan bumi beserta isinya ini.

Seperti kasus yang belakangan ini terjadi. Tentang seorang tua yang tega membunuh secara sadis sekian banyak anak ingusan setelah sebelumnya terlebih dahulu disodomi dan diperlakukan tidak manusiawi. Sebut saja babe panggilannya. Pria yang tega menghabisi sekian banyak nyawa anak-anak tak berdosa di bawah umur itu dengan tenangnya menyungging senyuman saat ditangkap oleh pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan akibat perbuatannya. Astaghfirullah, apakah bawaan fitrahnya sudah hilang dari dalam dirinya. Sebaliknya, syetan apakah yang 'betah' bersemayaman di dalam dadanya sehingga tega-teganya melakukan perbuatan biadab itu.

Hal lain yang tidak kalah heboh ceritanya adalah kasus politik yang melibatkan kepentingan orang banyak. Kasus Bank Century yang sampai saat ini masih belum jelas benang merahnya, siapa otak di belakang itu dan siapa pula dagelannya?! Bagi orang-orang yang beriman yang memandang segala sesuatu berdasarkan bashirah (mata hati) tentu tidak bisa tenang dan dia dengan peristiwa mengkhawatirkan seperti. Batinnya akan menjerit dan melawannya dengan kemampuan dan pemahaman yang ia miliki.

Tentu sangat beralasan. Siapapun kita yang masih memiliki hati nurani dan kembali kepada fitrah Allah, pasti akan menengok kembali kepada ajaran Islam yang tertuang dalam al-Qur'an, bahwa Allah telah berfirman:

 "..Dan janganlah kalian merusak di muka bumi setelah diperbaiki.."(Qs al-A'rof: 85)

Mungkin kita tidak pernah lupa dengan tingkah laku Fir'aun, makhluk yang dahulu pernah mengaku jadi Tuhan semesta alam. Karena Fir'aun tetap ngotot dan sombong dengan dirinya itu setelah diperingati nabi Musa as, Allahpun menurunkan siksa kepadanya. Tapi dampak kerusakan yang telah dia perbuat sudah merambah ke mana-mana dan menyesatkan banyak manusia. Hal ini terekam dalam firman-Nya:

"Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar menjadi pelajaran bagi orang-orang setelah kamu.."(Qs Yunus: 92)

Itulah peringatan Allah kepada para pembuat dosa dan kerusakan. Yang kita khawatirkan sekarang adalah ancaman peringatan-Nya kepada generasi zaman sekarang ini yang melakukan dosa dalam bentuk yang tidak kalah hebat, sehingga mengakibatkan jiwa manusia melayang dalam jumlah yang tidak sedikit. Baik itu karena dosa korupsi ataupun dosa-dosa individu lainnya yang memiliki dampak sosial dalam skala besar.

Apabila dahulu akibat perbuatan dosa tidak langsung terjadi karena ada Rasulullah yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin, maka saat ini hanya istighfarlah yang bisa menyelamatkan kita dari turunnya azab dari Allah swt. Ya, istighfar, taubat dan kembali kepada ajaran-Nya secara sempurna.

Allah berfirman:

"Dan Allah tidak akan menyiksa mereka (para pembuat kemaksiatan) selama engkau (Muhammad) ada bersama mereka. Dan sekali-kali Allah tidak akan menyiksa mereka selama mereka memohon ampunan."(Qs al-Anfal: 33)

Semoga kita termasuk hamba-Nya yang selalu teringatkan dengan tazkiroh (peringatan) -Nya, Amiin.

"Maka berilah peringatan dengan al-Quran ini bagi orang-orang takut akan ancaman neraka "(Qs Qof: 45)

"Dan berilah tazkiroh, karena sesungguhnya tazkiroh itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman."(Qs Az-Dzariyat: 55)

Wallahu a'lam bish-showab.

(Hidayatullah)

 

Last Updated ( Thursday, 04 February 2010 10:42 )
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 4