|
Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa al-Quran Allah turunkan sebagai rahmat bagi semesta alam ini. Khususnya bagi orang-orang yang mengimaninya. Karenanya mengimaninya adalah bagian dari rukun iman yang enam selain mengimani Allah, rasul, malaikat, hari kiamat dan takdir baik atau buruk. Orang yang beriman kepada Allah pasti juga beriman kepada kitab-kitab Allah yang lain. Untuk umat Islam sendiri sebagai umat terakhir yang diamanahkan al-Quran bersamanya wajib hukumnya mengimani dan meyakini eksistensi kitab suci al-Quran sebagai dusturul hayah (pedoman hidup). Di dalamnya Allah sudah merampungkan dan menyempurnakan semua ajaran para nabi dan rasul. Artinya dengan turunnya al-Quran dan tetap eksis sampai hari ini dan kelak hingga hari kiamat menandakan bahwa tidak ada tempat kembali bagi semua kebaikan manusia selain kembali kepada ajarannya. Di antara kewajiban itu adalah menyadari akan tugas utama kita setelah berislam dan beriman, yakni menyimak dan mempelajari al-Quran secara intensif. Mengingat isi kandungan al-Quran tidak mungkin diselesaikan semuanya karena terterbatasan usia manusia yang singkat. Oleh karena itu hidayah al-Quran untuk kehidupan kita sehari-hari harus terus menerus segar dalam denyut nadi kita. Semangat bersua, memahami dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata adalah wajib hukumnya. Sewajib kita memenuhi kebutuhan pangan dan sandang kita sehari-hari. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: "Manusia sangat membutuhkan ilmu sebagaimana mereka mencukupi kebutuhannya kepada makanan dan minuman." Apabila kebutuhan jasmani sangat diperlukan untuk memperkuat stamina fisik agar tetap prima, maka kebutuhan ilmu bagi manusia sebagai bentuk kebutuhan ruhiyyah (rohani). Bahkan kebutuhannya kepada ilmu lebih besar lagi. Dan tidak ada ilmu yang paling bermanfaat bagi manusia selain ilmu-ilmu yang terungkap dari al-Quran. Peran al-Quran di zaman sahabat dan generasi salaf sholeh. Kita tahu bahwa zaman para sahabat dan generasi kedua setelah mereka adalah zaman terbaik sepanjang sejarah. Dengan segala keunikan dan keistimewaannya seolah Allah ingin meninggalkan jejak kebaikan peradaban manusia itu melalui jejak langkah pewarisan sahabat dan generasi salaf sholeh. Khususnya dalam berinteraksi dengan nilai-nilai al-Quran sebagai dusturul hayah, para sahabat adalah orang yang paling besar perhatiannya terhadap isinya. Karena Rasulullah bersama mereka dan al-Quran turun di tengah-tengah mereka. Takdir Allah berlaku kepada mereka sebagai jilul farid (generasi unik) karena belajar dan mempelajari al-Quran sepanjang hayat. Kehadiran dan perjuangan mereka diakui kawan dan lawan. Bagi kita yang hidup di zaman sekarang jangan sampai beralasan lalu bergumam: "Lah itu kan sahabat. Apalagi bersama mereka ada Rasulullah dan al-Quran sendiri turun di tengah-tengah mereka, wajar dong apabila mereka dapat dengan mudahnya meresapi al-Quran, memahaminya, termotivasi untuk selalu merealisasikan nilai-nilainya. Tapi jangan bandingkan lah dengan zaman kita sekarang." Kalau diajak membandingkan, mungkin sebagian akan beralasan demikian sebagai alat untuk membela diri atas ketidakmampuannya berinteraksi dengan al-Quran di zaman yang penuh dengan godaan-godaan keduniaan dan pelemahan iman ini. Tapi pantaskah itu kita jadikan sebagai alasan untuk mendapatkan pemakluman dari Allah swt kelak?! Tentu tidak. Karena masing-masing generasi ada zaman dan masa yang Allah istimewakan bagi mereka. Semuanya Allah berikan kesempatan yang berbeda -baik generasi dahulu maupun modern saat ini- untuk dapat mengamalkan ajaran al-Quran dan al-Islam. Secara logika mungkin bisa kita terima alasan di atas. Tapi secara fitrah dan ketentuan takdir, keduanya memiliki kelebihan dan keunikannya. Sebagai contoh misalnya keunikan generasi para sahabat dahulu Allah takdirnya mereka hidup untuk menjadi qudwah hasanah dalam hal tatbiqul Islam wal quran (mengamalkan Islam dan al-Quran) secara langsung dengan guru dan murobbi (pemimbing) mereka adalah Rasulullah saw. Bersama Rasulullah, Allah berkehendak menjadikan semua ajaran al-Quran membumi di tangan para sahabat sampai generasi tabi tabi'in sebagai tiga periode terbaik umat ini. Setelah itu seiring perubahan zaman, kadar pengamalan al-Quran dan sunnahpun semakin berkurang dan berkurang dari tubuh umat Islam. Dan lagi-lagi ini tidak bisa dilepaskan dari takdir Allah bagi umat manusia. Nasib al-Quran di zaman modern dan kemajuan tehnologi: Kalau di zaman para sahabat al-Quran mendapatkan perhatian yang amat besar, maka berbeda dengan perhatian umat Islam di zaman mdoern ini. Segalanya telah berubah 180 derajat. Sejarah terus bergulir mengiringi langkah hidup generasi manusia dan umat Islam. Meski demikian al-Quran tetap utuh seperti ketika dahulu di zaman para sahabat. Murni dan jauh dari segala perubahan dan penyimpangan. Yang jadi masalah bukannya al-Quran. Karena al-Quran tetap Allah jaga sampai hari kiamat dengan segala keutuhan dan keasliannya, meski banyak tangan-tangan kotor yang ingin menodainya. Tapi manusia-manusianya lah yang tidak mengindahkannya. Akibatnya, al-Quran tak ubahnya bagaikan seonggok kitab klasik yang tidak lagi relevan dengan perubahan zaman. Seakan-akan isinya tidak lagi sanggup memberikan solusi bagi kehidupan manusia.! Inilah anggapan yang bodoh dan penuh kekeliruan. Padahal setiap zaman pasti ada generasi yang Allah pilih untuk meneruskan pemeliharaan al-Quran ini agar tetap mendapatkan perhatian manusia. Hal ini juga terkait dengan petunjuk Allah kepada manusia. Kuncinya adalah kaum muslimin harus sadar dan mau kembali kepada jejak generasi terbaik dahulu dalam memahami dan mengamalkan al-Quran agar masa depan hidup mereka tidak suram dan bisa mengembalikan kejayaan Islam dan kaum muslimin dahulu. Kita sendiri, harus mau dan maju. Bangkit bersama nilai-nilai al-Quran yang pernah diajarkan Rasulullah saw kepada kita. Apatah lagi, segala fasilitas dan media mempelajari al-Quran saat ini sudah semakin mudah dan tersedia. Betapa Allah sangat memanjakan umat Islam di zaman modern ini dengan kemudahan-kemudahan itu. Tinggal yang perlu dikoreksi adalah maukah umat Islam bangkit bersama al-Quran? Itu saja.. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk menjadi seperti generasi sahabat dahulu sebagai umat terbaik sepanjang sejarah yang akan mengembalikan kejayaan Islam dengan al-Quran. Seperti kata sebuah ungkapan: "Tidak ada izzah (kemuliaan) bagi kita kecuali dengan kembali kepada al-Quran." Jadi, bagaimanakah porsi al-Quran pada diri kita?? Sudahkah kecintaan itu terealisir pada jiwa kita? Jika belum, ayo kembali kepada ajarannya, saat ini juga..!! Wallahu a'lam bish-showab. (by. Hidayatullah ) |