Haji Panggilan Nurani (Tulisan Satu dari Serial Haji Marbur)
Written by adminweb    Monday, 21 February 2011 13:08    PDF Print E-mail

tarmudliMuntadaquran.net : "Nanti kalo sudah dipanggil juga pasti saya akan pergi haji", Demikian ucapan seorang yang bisa dibilang atasan, sebut saja namanya Bambang di tempat kerja saya dulu. Secara finansial, Pak Bambang tergolong orang mapan. Rumah sudah milik sendiri, kendaraan pribadi punya, istrinya seorang PNS. Bila menabung untuk haji pak Bambang pasti masih bisa menyisakan setiap bulannya untuk haji. Namun sayang itu tidak dilakukan pak Bambang.

Berbeda dengan seorang yang dikenal kolot dan kampungan nun jauh di sana, seorang Hasyim petani itu baru saja menunaikan ibadah hajinya dari hasil tabungannya selama bertahun-tahun. Meski hanya sebagai petani kecil, ia bertekad mendahulukan tabungan haji dibanding kebutuhan kendaraan pribadi atau aksesoris duniawi lainnya. Walhasil Hasyim pergi haji dengan kondisi ekonomi apa adanya. Tapi ada kepuasan dan kebahagiaan batin yang tidak terbayangkan di sana.

Kasus lain, tidak sedikit pegawai biasa-biasa bukan jajaran manejer atau komisaris namun sudah masuk golongan "yang muda yang berhaji". Mereka rela menyisihkan sebagian gajinya untuk tabungan haji dan rela menunda kebutuhan kendaraan roda empat demi menyempurnakan rukun Islam.

Namun ada sebagian penguasaha sukses, manajer dengan gaji minimalnya sebulan bisa untuk naik haji, namun ia menunda-nunda penunaikan rukun Islam ke-5 ini dengan berbagai alasan. Walaupun ada sebagian lainnya yang "bolak-balik" ke tanah suci karena "ketagihan ruhani" melampiaskan kerinduannya untuk berjumpa dengan "fenomena mukjizat yang amat sakralitas" yang memiliki daya gravitasi yang maha kuat.
Kesimpulannya, sesungguhnya haji itu tidak selalu bisa terlaksana karena kemampuan finansial semata, karena ada banyak orang mampu secara finansial "belum bisa" atau "belum terpanggil" untuk berhaji. Walaupun sudah pasti tidak mungkin pergi haji tanpa dukungan finansial. Terkadang finansial atau fasilitas itu "datang sendiri" setelah "azam" melekat kuat di dalam jiwa. Jadi "panggilan nurani" itulah sesungguhnya yang paling utama sebelum finansial. Selama orang belum "terpanggil nuraninya" selamanya ia tidak akan bisa berhaji meski ia memiliki pesawat pribadi.

"Keterpanggilan nurani" itu terbentuk dalam diri seseorang karena faktor "persepsi" internal tentang agama. Artinya perasaan "keterpanggilan" jiwa seseorang terbentuk setelah ada pematangan pemahaman tentang "diin" (agama), tentang kewajiban, tentang kebutuhan dirinya terhadap Allah, dan kebutuhan dirinya untuk menyempurnakan "tiang penopang" agamanya yang terakhir dari lima tiang yang selama ini sudah ditunaikan.
Haji bukan sekadar pembuktian bahwa seseorang sudah mampu "secara finansial",  bukan sekadar wisata ruhani, bukan sekadar pengguguran kewajiban, bukan sekadara konsolidasi antar muslim dunia, meski unsur-unsur ini ada di dalamnya. Haji dengan segala liku-liku prasyaratnya adalah ibadah dan perwujudan penghambaan diri murni kepada Allah yang bertujuan "mendewasakan dan mematangkan" agama seseorang.

Jika – minimal – seseorang memiliki persepsi seperti ini dalam diri seseorang, maka akan mudah baginya "untuk terpanggil" menunaikan haji. Bagi yang mampu secara finansial, maka ia tidak perlu bilang "entar aja menunggu tua" untuk mendaftarkan diri menunaikan haji. Jangan sampai akibat menunda-nunda haji, kita termasuk orang yang masuk dalam "kloter terakhir" ketika usia kita sudah senja dan uzur atau Allah mendadak membangkrutkan kita sehingga tidak lagi mampu berhaji. Naudzu billah

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Bersegeralah dalam amal salih sebelum terjadi fitnah yang seperti malam yang gelap gulita" (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda,

بادروا بالأعمال سبعا ، ما تنتظرون إلا فقرا منسيا ، أو غنى مطغيا ، أو مرضا مفسدا ، أو هرما مفندا ، أو موتا مجهزا ، أو المسيح فشر منتظر  . وفي رواية ابن عبدان : « أو الدجال فإنه شر منتظر ، أو الساعة والساعة أدهى وأمر

 "Segerakan beramal sebelum datang tuju hal; kalian hanya menunggu kemiskinan yang melupakan, atau kekayaan yang menyebabkan tindakan melampaui batas, atau sakit yang merusak, atau usia tua yang menghilangkan ingatan, atau kematian yang siap menjemput atau Dajjal yang makhluk paling buruk ditunggu". Dalam riwayat Ibnu Abdan, "Atau Dajjal yang terjahat yang ditunggu atau hari kiamat dan itu paling menggemparkan dan paling pahit." (HR. Baihaqi)

Sebaliknya bagi bagi yang tidak mampu secara finansial, ia akan terdorong dan memiliki motivasi kuat bahwa ia harus berusaha mengumpulkan bekal yang cukup. Jangan sampai karena kita belum mampu secara finansial kemudian kita 'kehilangan cita-cita' untuk berhaji. Karena Rasulullah bersabda dalam hadits Qudsi, " 

إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِى.

"Sesungguhnya Allah berfirman, "Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya jika berdoa" (HR. Muslim)
Untuk itu, sambil bekerja, marilah berdoa dan berhusnudzon kepada Allah agar mewujudkan cita-cita kita untuk berhaji.

Karenanya, jika kita seorang muslim yang sungguh-sungguh, cita-cita utama dalam bekerja bukanlah melengkapi kebutuhan sekunder dan tersier kita. Cita-cita utama seorang muslim dalam bekerja adalah menyempurnakan rukun Islamnya. Ambisi melengkapi kebutuhan kendaraan nyaman dan aksesoris lain bukanlah yang terlarang dalam Islam. Namun ada "ambisi" yang wajib dimiliki setiap muslim yakni menyempurnakan keislamannya dengan berhaji yang merupakan satu dari lima bagian terpenting dalam Islam.  Wallahu a'lam bishawab  (Ust. H. Ahmad Tarmudli, Lc/the)

Last Updated ( Monday, 21 February 2011 13:17 )