|
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Q.S. al-Israa’ (17) : 1]
Tahun kesepuluh setelah bi’tsah, adalah puncak dari kegalauan baginda Rasul Saw. sebagai manusia. Di tahun ini pula terakumulasi keindahan pengabdian seorang lelaki ksatria nan santun wibawa. Kumpulan ketegaran manusia terbaik di antara manusia yang lain, bahkan terbaik di antara para nabi dan rasul.
Sebelumnya Beliau Saw., senantiasa didera aneka hinaan dan julukan tak masuk akal; gila, penyihir, dukun dan lain sebagainya. Hanya karena Ia Saw., tak terpengaruh budaya nenek moyang yang jauh di luar jangkauan kecerdasan alam fikiran manusia : Menyembah sesuatu yang tak dapat memberi guna dan celaka bagi manusia.
Dan hanya karena mengajak menyembah Allah Ta’ala yang Satu, dengan segala konsekuensinya, kejahatan pada dirinya tak pernah berhenti hingga berusaha agar Ia Saw., mati. Bahkan seluruh pengikutnya yang cerdas, mulia dan setia mendapat perlakuan yang juga sadis.
Baginya Saw., semua itu tak berarti apa-apa. Hingga akhirnya Ia Saw. merasakan limbung, saat dihantam ujian yang berat tak terperi : Paman dan istri tercinta yang membela seluruh perjuangannya, wafat, di saat yang hampir bersamaan.
Namun Allah Sang Pencipta, Pemberi Perintah Tunggal atas segala sepak terjangnya Saw., tak meninggalkan kekasih-Nya itu tersungkur sendirian, dan menjadi bahan tawaan musuh-musuhnya. Lalu dengan kasih sayang-Nya, ketika pada waktu itu, pada tahun kesepuluh setelah bi’tsah, delapan belas bulan sebelum hijrah, Allah ‘Azza wa Jalla menghibur sang Nabi dengan membawanya “bertamasya” ke tempat-tempat mulia hingga menembus angkasa menuju Singgasana-Nya. Menunjukkan Kebesaran Kekuasaan-Nya. Dan kita mengenalnya dengan Peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Tidaklah sesederhana yang selalu kita dengar, tentang “rihlah” istimewa nabi ini. Selain peristiwa di belakangnya yang heroik, historik dan mengharu biru, ada sebuah kejadian yang patut dicatat sebelum berangkatnya Nabi ke Baitul Maqdis, yang menjadi pangkal dari rangkaian perjalanan sejarah abadi yang menghantarnya saw. pada perintah Shalat : Pembelahan dada Rasulullaah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Beberapa Hikmah
Banyak pelajaran yang didapat tentunya dari peristiwa agung ini. Didalamnya kita melihat makna mu’jizat besar diantara mu’jizat terbesar lainnya. Dari sini, tertolak seluruh serangan musuh Islam yang membombardir diri Nabi saw., bahwa beliau adalah seorang manusia yang tak akan mampu melakukan aksi super fantastik itu : berangkat dari Makkah ke Palestina dan membus angkasa luar dalam waktu tidak sampai setengah malam !. Upaya kaum musyrik untuk menyangkal hal ini dapat dihalau Rasul saw. dengan mengilustrasikan bangunan Baitul Maqdis secara detil. Membuktikan bahwa beliau saw. telah ke sana, dan tidak sekedar lewat. Bahkan baliau saw sempat shalat dua raka’at. Bagaimana mampu sedetil itu Nabi saw. menjelaskan ? sekali lagi Allah ‘Azza wa Jalla tak mungkin meninggalkan kekasih-Nya itu jadi bulan-bulanan musuh. Allah telah manampakkan bangunan Baitul Maqdis di hadapan Rasu saw. dengan jelas. Dan tanpa seorangpun mengetahui hal tersebut. Subhanallah.
Pelajaran lain yang dapat dipetik dari sini, bahwa begitu erat hubungan antara ajaran Isa as. dengan Rasulullah saw. Isa as. yang berdakwah di Palestina di terjemahkan dengan Baitul Maqdis. selain itu banyak para nabi berasal dan berjuang di sana. Begitu pentingnya, palestina dan Baitul Maqdisnya membuat kita harus membela dan mempertahankannya agar tak dijamah oleh musuh-musuh Allah, musuh Islam, musuh kita semua. Nyatanya Al-Quds adalah Kiblat ummat Islam pertama sampai akhirnya dirubah arahnya ke Ka’bah. Atau sangat mungkin Salahuddin al-Ayubi terinspirasi dengan hal ini, hingga begitu gigih mempertahankan Palestina dan Al-Qudsnya dari jamahan musuh. Allaahu a’lam.
Setelah menunaikan shalat dua raka’at di Masjid al-Aqsa, Baitul Maqdis, Rasulullah Saw. ditawarkan Khamr dan Susu oleh malaikat Jibril as. Dan beliau memilih susu. Sebuah kesimpulan tentang ajaran Islam : Fithrah. Ajaran yang tidak akan pernah bertentangan dengan fithrah manusia dan alam semesta, sampai kapanpun. Pasti !
Sepanjang perjalanan nabi mengangkasa hingga Sidratul Muntaha, beliau saw. selalu disambut para nabi terdahulu di tiap-tiap pintu langit yang tujuh. Ternyata begitu hormatnya para nabi dan rasul yang mulia-mulia dan hidup ratusan hingga ribuan tahun lalu kepada baginda nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hilang sudah gundah gulana, galau nestapa dan pekat di hatinya saw. hingga saatnya beliau saw. menerima titah shalat dengan sukacita. Perintah yang akhirnya menjadi Identitas bagi seorang muslim yang membedakannya dari orang kafir.
Dan yang tidak kalah penting dari semua itu adalah, saat dibelahnya dada Rasulullah saw. sebelum berangkat ke Baitul Maqdis. Lalu malaikat Jibril as. membasuh Hati Rasulullah saw. dengan air Zam-zam. Dan akhirnya menutup kembali dada manusia mulia itu, Saw. Peristiwa yang sama ketika beliau saw. di masa kecil, di tengah padang rumput bani Sa’adah, saat mengembalakan kambing-kambingnya saw.
Dan inilah yang akan kita kupas lebih dalam, dalam menggali hikmah dari peristiwa Isra, Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Menjalankan Titah, bersama Hati yang Bersih
Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. [Q.S. asy-Syu’araa (26) : 87-89]
Kesimpulannya adalah, sepatutnya kita awali segala pengabdian kita pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan hati nan bersih. Yaitu hati yang tidak tercemar dengan aqidah yang menyimpang dan akhlaq tak terpuji.
Yang dimaksud dengan Aqidah yang menyimpang adalah, segala Ibadah yang ditujukan selain kepada Allah. Shalat bukan karena Allah. Berpuasa untuk mendapatkan dan mengejar sesuatu selain ridha Allah. Zakat/shadaqah mengharap legitimasi dari selain Allah. Berdakwah, bekerja, memberi nasihat, beraktivitas sosial, memimpin, berkeluarga, belajar dan beramal shalih dengan tujuan selain Allah. Yang pada akhirnya menjadikan sesuatu sebagai Tuhan selain Allah. Baik berupa jabatan, kekuasaan, harta, anak, pasangan hidup, popularitas dan segala yang sejenis dengan itu.
Selain itu mempercayai dan menghubungkan segala sesuatu dengan mitos dan takhayul, juga bagian dari penyimpangan Aqidah. Dan, kita sebut semua itu dengan nama Kemusyrikan.
Sedangkan hati yang tercemar dengan akhlak tak terpuji yaitu, hati yang diliputi dengan sifat-sifat buruk. Seperti angkuh, menyimpan marah dan dendam, cemburu dan dengki, tamak dan kikir, curiga dan buruk sangka.
Sayyid Qutub menyimpulkan pangkal semua kejahatan menjadi tiga : Sombong (al-Kibr), menyimpan Amarah dan Dengki (al-Hiqdu wa al-Hasad) dan Rakus (al-Hirsh). Semua sifat ini ada pada Iblis, biang segala kejahatan di jagad raya ini. Yang pada akhirnya, dari hati yang kotor akan melahirkan tutur kata yang buruk dan perangai yang tercela. Jauh dari sifat shabar, qanaah dan rendah hati.
Demikianlah pentingnya hati yang bersih, karena ia adalah syarat utama diterimanya ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan tak akan berguna harta dan anak laki-laki (pengikut) di hari berbangkit nanti, karena mereka tak kakan mampu menolong kita. Kecuali orang-orang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang bersih.
Semoga dengan ini, kita mampu menggali nilai sejati dari peristiwa Isra Mi’raj Nabi saw.
Allaahu a’lam bishsawaab.
(Imam Dachlan/the)
|