| Kupenjarakan Kau, Karena Aku Cinta Padamu | ||||
|
|
Kupenjarakan Kau, Karena Aku Cinta Padamu Oleh : Hasan Hartanto, Lc Sekretaris Yayasan Muntada Ahli Quran
"… Jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan, dan dia akan menjadi orang yang hina." (QS. Yusuf: 32) Penggalan ayat di atas adalah ungkapan yang dikatakan oleh istri Al-‘Aziz, pembesar Mesir di masa Nabi Yusuf Alaihis Salam. Ia ucapkan kalimat tersebut saat para wanita Mesir kala itu menuduhnya telah dimabuk cinta oleh ketampanan Yusuf belia. Tuduhan itu pun tak serta merta begitu saja dilemparkan kepada istri Al-‘Aziz. Para wanita negeri itu berani bersuara setelah istri Al-‘Aziz terbukti berusaha menundukkan Yusuf. Untuk membuktikan bahwa yang membuatnya mabuk cinta adalah hal yang luar biasa, ia kumpulkan para wanita itu agar mereka melihat dengan mata kepala mereka. Dan, ternyata mereka pun sangat kagum saat melihatnya. Bahkan mereka merekomendasi bahwa yang dilihatnya tak lain adalah Malaikat. Mungkin wajar jika kemudian istri Al-‘Aziz berani sesumbar dengan kalimat di atas. Kalimat bernada ancaman tersebut berakibat pada dua konsekuensi; Yusuf harus dipenjara dan menjadi orang hina. Dua konsekuensi tersebut diungkapkan dengan dua gaya bahasa berbeda. Pada masalah “dipenjarakan”, diungkapkan dengan kalimat layusjananna [ ????????????? ]. Dimana pada kalimat singkat ini terdapat dua kata penegas yaitu; Lam [ ?? ] yang diimbuhkan di awal kata yusjan [???????? ] dan Nun musyaddadah (bertasydid) [ ??? ] yang diimbukan di akhirnya. Sedangkan pada masalah “dijadikan hina” diungkapkan dengan kalimat layakunan [ ?????????? ] dengan kata penegas huruf Lam [ ?? ] yang dibubuhkan di awal kata yakun [ ??????? ] dan Nun mukhhaffafah/ sakinah [ ?? ] di akhirnya yang ‘diwakilkan’ dengan tanwin (harakat ganda). Untuk menegaskan sesuatu bahwa ia benar-benar berlaku, dalam bahasa Arab biasa digunakan huruf taukid (penegas). Di antara huruf-huruf taukid tersebut adalah Lam, Nun Musyaddadah, dan Nun Sakinah. Nun musyaddadah (bertasydid) memiliki kekuatan penegas lebih daripada Nun sakinah. Sehingga jika dalam sebuah kalimat terdapat beberapa nun taukid dengan harakat berbeda; ada yang bertasydid dan ada yang sukun, maka keduanya memiliki penegasan berbeda pula. Men-tadabbur-i penggalan ayat tersebut, penegasan bahwa Yusuf harus dipenjara lebih kuat dan tegas daripada penegasan bahwa ia akan menjadi orang yang hina. Karena pada masalah pemenjaraan ditegaskan dengan lam taukid dan nun taukid musyaddadah, sedangkan pada masalah “menjadi hina” hanya ditegaskan dengan lam taukid dan nun taukid mukhaffafah/ sakinah. Mengapa demikian? Ketika istri Al-‘Aziz telah dimabuk cinta, segala cara ia gunakan untuk menundukkan Yusuf. Bahkan dengan memenjarakannya. Ancamannya untuk memenjarakan Yusuf bukanlah sekadar menakut-nakutinya. Ia benar-benar memenjarakannya. Ia memenjarakannya atas nama cinta. Ya. Karena ia sangat mencintainya dan ingin dekat dengan Yusuf, maka tidak mengapa orang yang dicintainya ini harus dipenjara. Karena dengan dipenjara ia akan lebih dekat dan leluasa untuk ‘menjenguk’ Yusuf. Hal itu semakin nyata ketika ia mengungkapkan penggalan kalimat berikutnya, “ia akan menjadi orang yang hina.” Ia ungkapkan kalimat ini dengan penegasan berbeda dengan yang sebelumnya. Gaya bahasanya pun lebih diplomatis. Seolah ia tak sepenuh hati mengucapkan kata-kata itu. Yang pasti, ia tak ingin orang yang digandrungi dan dicintainya itu menjadi hina. Ia hanya ingin, pria paling tampan itu dipenjara, sehingga ia tak perlu mencarinya ke mana-mana. Wallahu a’lam. Begitulah manusia. Kala cinta telah menguasai diri, segala kekurangan pada diri yang dicintainya tak lagi dihiraukan. Dalam pandangannya, kekasihnya begitu sempurna. Semuanya menjadi indah. Seolah tak ada aib. Karenanya ia menjadi sangat rindu untuk dekat dengannya. Risiko terberat dalam hidup tak menghalangi seseorang untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar mencintai sang kekasih. Dengan cara apa pun ia akan tetap tempuh supaya dekat dengan yang dicintainya. Meski harus memenjarakan sang kekasih. Di ujung dunia mana pun ia akan kejar. Namun, tak seorang pun rela jika kekasihnya dihina atau terhina. Ia akan membelanya dengan segala cara. Meski nyawa harus melayang. Ia rela mengorbankan diri dan segala miliknya. Ia mencintainya dengan sempurna. Benarlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menyatakan, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya.” Jika cinta kita kepada manusia atau kepada makhluk lainnya hingga mencapai tingkat pengorbanan tertinggi, tentu selayaknya cinta kita kepada Allah Ta’ala lebih dari itu. Sebab, Dia-lah Yang telah memberikan segala yang kita miliki. Dengan cinta-Nya Dia menciptakan kita. “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31) |
| Last Updated ( Thursday, 30 July 2009 06:29 ) |












Bagi para pecinta Al-Quran dan pengunjung muntadaquran.net yang ingin berkontribusi untuk pengembangan Yayasan Muntada Ahlil Quran, silahkan salurkan donasi anda ke :

