Parade Al Qurán dalam KAJIAN ISLAM AKHIR TAHUN (KIAT) QUR’ANI Belanda-Belgia
Written by adminweb    Wednesday, 25 January 2012 16:59    PDF Print E-mail

Muntadaquran.net - Al-Qur’an adalah kitab suci kaum Muslimim, yang posisi dan kedudukannya teramat mulia sehingga sudah sepatutnyalah seorang Muslim memiliki kadar interaksi dengan semestinya. Dia merupakan kitab yang setiap hurufnya adalah perhitungan pahala, ketika dibaca, ketika dihafal, ketika dipahami, ketika diajarkan, maupun ketika diamalkan.

Dari Ibnu Mas'ud rad, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan 'alif laam miim' satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf’.” (HR. At-Tirmidzi)

Al-Qur’an merupakan cahaya dan juga petunjuk, yang nilai-nilai serta ajaran-ajarannya harus selalu kita hayati, kita hidupkan, dan kita sebarluaskan ditengah-tengah masyarakat dimana kita berada. Pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak merupakan salah satu cara pewarisan nilai-nilai luhur ajaran Islam, kegiatan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan salah satu ciri dari generasi rabbani (rabbaniyun) sebagaimana Allah SWT lukiskan didalam Al-Qur’an, surat Ali Imran ayat 79:

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata), "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS. Ali Imran [3] : 79)

Menyelenggarakan aktivitas belajar-mengajar Al-Qur’an akan dirasakan mudah di dalam lingkungan yang kondusif, yaitu ketika masyarakat luas tempat di mana kita tinggal merupakan masyarakat religius yang peduli dengan pengajaran nilai-nilai Qur’ani, sebagaimana yang kita rasakan di tanah air kita tercinta Indonesia. Akan tetapi, menyelenggarakannya di negeri perantauan seperti Belanda, ini tentunya merupakan tantangan tersendiri yang tidaklah mudah, terlebih ketika tarikan lingkungan cukup kuat dalam melalaikan seorang Muslim dari berinteraksi dengan Al-Qur’an, terutama mendekati akhir tahun yang oleh mayoritas orang dihabiskan dengan pesta dan perayaan.

Komunitas Muslim Indonesia yang sekarang ini aktif melalui lembaga-lembaga sosial yang aktif adalah mereka generasi pertama yang datang dan tinggal serta berkeluarga selama lebih kurang 5-10 tahun. Banyak dari mereka yang telah memiliki anak yang sudah mulai beranjak remaja dan telah menjadi generasi kedua. Kekhawatiran akan kurangnya pendidikan/lembaga islam di Belanda dan Belgia terutama pengetahuan dan kecintaan terhadap Al Quran sangat menjadi perhatian mereka. Harapan mereka adalah agar dari generasi kedua ini terbentuk generasi Qurani di mana akan menjadi penerus dakwah Islam di Belanda. Juga yang tak kalah penting pula adalah bagi orang tua untuk setiap saat meng-upgrade pengetahuan terhadap Al Quran sehingga dapat menjadi pembimbing dan pembentuk generasi Qurani yang baik dan tangguh.

Menyadari situasi yang demikian, Stichting Generasi Baru (SGB) Utrecht sebagai komunitas keislaman dan kebudayaan Indonesia di Belanda yang salah satu kegiatan rutinnya adalah Taman Pendidikan Al-Qur’an, merasa terpanggil untuk bekerjasama dengan sesama komunitas Islam Indonesia di Belanda dan Belgia dalam membangun dan memperluas kesadaran akan pentingnya pendidikan Al-Qur’an ditargetkan untuk kalangan berikut ini:

- Muslim dan muslimah baik yang sudah bermukim lama ataupun yang tinggal sementara sebagai mahasiswa;
- Muslim dan muslimah yang telah menjadi tenaga pengajar atau akan menjadi tenaga pengajar di Taman Pendidikan Al Quran di masing-masing lembaga atau kelompok pengajian di masing-maing kota yang juga ikut terlibat;
- Anak-anak dan remaja Indonesia.

Sebagai wujud kesadaran tersebut maka, SGB mempersembahkan sebuah kegiatan bertajuk KIAT QUR’ANI (Kajian Islam Akhir Tahun–Qur’ani), diselenggarakan pada tanggal 18–31 Desember 2011 serta 1 Januari 2012, yang juga turut mengundang beberapa komunitas dan organisasi keislaman yang diasuh oleh masyarakat Indonesia di Belanda dan Belgia untuk hadir dan berpartisipasi secara aktif. Komunitas Muslim indonesia lain yang terlibat bersama SGB adalah sebagai berikut:

Belanda

    De Gromiest, dari kota Groningen (http://degromiest.nl);
    Komunitas Muslim di kota Wageningen;
    Komunitas Muslim Delft (http://muslimdelft.nl/) di kota Delft;
    dan Komunitas Muslim Nijmegen (Kemuni), di kota Nijmegen.

Belgia
Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia Belgia (KPMIbelgia) di kota Brussel (www.kpmibelgia.com)

Dalam rangkain acara itu sengaja di undang untuk hadir Ustadz Taufik Hamim Lc., MA. (http://taufik-hamim.com) beliau salah satu penghafal Quran (hafidz), dan menjadi pemateri. Beliau adalah pengasuh Yayasan Muntada Ahlil Quran (http://muntadaquran.net) serta pengajar dan pembina metode cepat membaca Al-Quran metode “Mutiara Qurani”, dimana telah di ajarkan di beberapa negara di Asia, Australia dan Selandia Baru. Beliau juga seorang penerbit buku berjudul “Jurus Jitu Menghafal Al Quran”.

Harapan terbesar SGB dengan diinisiasinya perhelatan ini supaya generasi kita (pertama) dan generasi penerus kita di masa yang akan datang menjadi generasi yang apresiatif terhadap Al-Qur’an, memuliakan Al-Qur’an dan para Shohibul Qur’an serta bukanlah termasuk golongan orang-orang yang mengacuhkan Al-Qur’an sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Rasulullah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, surat Al-Furqaan ayat 30: Berkata Rasul, “Ya Tuhanku sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqaan [25] : 30)

Adapun tujuan diselenggarakannya KIAT QUR’ANI secara kongkrit adalah:

- Memposisikan Al-Qur’an serta para sahabat Qur’an pada tempat terhormat di dalam masyarakat Muslim Indonesia.
- Menumbuhkan kesadaran, motivasi serta kebanggaan di kalangan anak-anak dan remaja muslim Indonesia akan aktivitas belajar-mengajar Al-Qur’an.
- Menjadikan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan Al-Qur’an, sebagai wasilah dalam memperluas silaturahim antara sesama elemen dan komunitas kaum Muslimin, khususnya kaum Muslimin Indonesia.

Berikut ini adalah reportase mengenai rangkaian acara Parade Al Quran dimana Ust. Taufik Hamim berperan penuh sebagai pemateri.

Tanggal 18–28 Desember 2011, Lokasi: Delft – Groningen – Wageningen – Brussel (Belgia) - Nijmegen

Al-Quran menjadikan seseorang menjadi mulia, dengan cara mempelajari, memahami dan mengamalkan nilai-nilai Qurani sehingga nilai-nilai tersebut akan menjadi budaya di masyarakat. “Jika budaya Qurani sudah dijalankan di tengah masyarakat Muslim, maka banyak hal positif yang selama ini ada di barat akan beralih menjadi milik umat Islam kembali, karena hakekatnya hal tersebut adalah milik umat Islam,” begitu pesan ustadz Taufik Hamim Lc., MA dalam acara training cara mengajarkan Al-Quran bagi calon guru TPA di Delft, Belanda dengan metode belajar mudah membaca Al-Quran “Mutiara Qurani”. Ustadz Hamim menjelaskan bagaimana cara mengajarkan metode ini dengan buku panduan Mutiara Qurani yang diikuti dengan sangat antusias oleh peserta. (sumber: Islamedia)

Selama hampir 10 hari penuh Ust. Taufik Hamim mengunjungi dan singgah di masing-masing kelompok muslim Indonesia berturut-turut di kota Delft, Groningen, Wageningen, Brussel dan terakhir di Nijmegen.

Tanggal 29–30 Desember 2011, Lokasi: Utrecht

Selama dua hari para pengajar dan calon pengajar TPA SGB (Yang telah dibina dari tahun 2005) di beri training padat dan singkat mengenai metode cepat membaca Al-Quran metode “Mutiara Qurani”. Juga pada kesempatan itu dua orang dari Brussel (Belgia) sengaja turut hadir.

Acara ini diselenggarakan bertempat di dua rumah keluarga Bapak Supardi (Ketua SGB) dan Bapak Gusti Andi (Wakil Ketua SGB). Training ini dimulai dengan perkenalan dari masing-masih peserta, di mana tergambar sejarah berdirinya TPA SGB. TPA SGB sendiri pada mulanya berdiri berkat inisiatif keluarga bapak Gusti Andi, yang mengajarkan metode pengajaran Qirati kepada anak nya serta diikuti pula oleh anak-anak non-Indonesia dan Indonesia yang tinggal di sekitar rumah. Dikesempatan itu juga sampaikan pula permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan kurikulum pengajaran di TPA. Setelah sesi ini, maka disepakati, bahwa selama dua hari para pengajar TPA SGB akan mencoba mengadopsi metode cepat “Mutiara Qurani”. Berbekal dengan buku terbitan pertama metode ini yang di bawa oleh Ust. Taufik, satu per satu halaman diajarkan dan diskusikan maksud dan kandungannya. Buku ini sendiri diterbitkan oleh Ust. Arifin, yang tak lain adalah kakak dari Ust. Taufik Hamim.

Pada hari terakhir selain melanjutkan pembahasan buku hingga ke halaman akhir, dibahas pula di sesi terakjhir secara singkat mengenai isi buku “Jurus Jitu Menghafal AL Qurán”.

Tanggal 31 Desember 2011, Lokasi: Gedung serbaguna SGB Utrecht

Pada hari itu, diselenggarakan Parade Hafalan Al-Qur’an Juz 30 yang diikuti oleh anak-anak mulai dari usia paling muda 5 tahun sampai 16 tahun binaan masing-masing organisasi yang terlibat. Ini merupakan puncak dari rangkain acara yang direncanakan SGB. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran diperdengarkan secara bergantian oleh anak-anak tersebut yang sebagian besar telah lahir di Belanda. Link berikut ini sedikit cuplikan dari bagian acara tersebut: http://www.youtube.com/watch?v=36j6wKDcGUE.

Lalu diikuti dengan ceramah dan workshop dimana intinya adalah bagaimana membangun generasi Qur’ani di negeri minoritas Muslim. Dalam ceramahnya beliau mengingatkan betapa mulianya para penghafal Al-Quran yang dikutip dari satu hadist pada kisah jaman Rasulullah saw ketika syuhada yang gugur pada perang Uhud hendak dimakamkan, maka di kalangan sahabat bingung siapa yang akan akan didahulukan, kemudian Rasulullah saw mengumpulkan di antara orang syuhada uhud, kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Quran, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari). Karenanya untuk menambah “tentara” pengawal Al-Quran beliau juga berpesan minimal satu orang di setiap keluarga menjadi penghafal Al-Quran.

Dalam acara tersebut Ust. Agus Purwanto yang juga ketua TPA yang di kelola SGB berharap acara ini nantinya tidak hanya berupa parade hafalan, namun untuk tahun-tahun kedepan diharapkan akan diadakan lomba hafalan Al-Quran yang akan memotivasi generasi muda muslim di Belanda untuk senantiasa dekat dan senang menjadi penghafal Al-Quran. Dan juga program dalam lima tahun ke depan di SGB akan dididirikan tempat hafalan Quran di Belanda yang akan dikoordinasikan secara intensif dengan Yayasan Muntada Ahlil Quran. (sumber: Islamedia)

Tanggal 1 Januari 2011

Workshop untuk masyarakat Islam di Utrecht yang di selanggarakan di gedung serbaguna SGB merupakan akhir dari rangkain acara Parade AlQuran ini. Acara ini sendiri diselenggarakan berkat kerjasama antara SGB dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Utrecht, Belanda.

Pada kesempatan ini Ust. Taufik memberikan tausiah mengenai bagiamana kita sebagai muslim bisa dekat dan mencintai Al Quran. Lalu selepas ishoma diikuti dengan Workshop singkat seputar metode dan cara cepat mengafal AL Quran dengan sebelumnya membenarkan bacaan.

Yang menjadi peserta dalam workshop kali ini adalah mereka yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari mahasiswa, ibu rumah tangga, para pekerja serta juga seorang mualaf berkebangsaan Belanda. Semisal, Ibu Eti yang berasal dari Leuwaarden telah tinggal di Belanda lebih dari 20 tahun lamanya. Di kota tempat beliau tinggal sangat susah di temukan komunitas Muslim, sehingga untuk mendapatkan bimbingan dari ustad terkait dengan cara membaca dan menghafal Al Quran dengan baik dan benar sangat susah. Namun dengan adanya acara ini setidaknya dapat memacu semangat bahwa pentingnya keberadaan pusat belajar Al Quran di sebuah Negara di mana Muslim sebagai minoritas.


Seperti yang sering di sebutkan dan ditekan kan oleh Ust. Taufik Hamim di setiap kesempatan, bahwa sudah banyak contoh bahwa orang yang sudah memiliki umur sekalipun (baca: usia lanjut/tua) namun masih bisa menjadi penghafal Al Quran. Juga orang-orang yang bukan dari atau tidak memiliki latar belakang keluarga dari kalangan ustad pun juga terbukti mampu menjadi penghafal Al Quran (Hafizdul Quran). Namun juga sangat penting untuk mnjadi perhatian adalah bagaimana kita bisa memperbaiki bacaan kita agar sesuai dengan ilmu tajwid sebelum kita mulai menghafal atau menambah hafalan kita, karena (salah satu) dengan memperbaiki bacaan maka akan memudah kita menghafal Al Quran, disebutkan Uts. Taufik.

Stichting Generasi Baru (SGB)
De Bazelstraat 31, 3555CR Utrecht, Belanda
Supardi Hasanuddin (Ketua SGB), dan Gusti Andi, Agus Purwanto dan Budiwan Adi Tirta
Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it , website: www.generasibaru.nl
 (Sumber: Eramuslim/the)

Last Updated ( Wednesday, 25 January 2012 17:35 )
 

Add comment


Security code
Refresh